Kamis, 10 Juli 2008

Perempuan perempuan punya cerita 2

Perempuan perempuan yang ini punya kesamaan dalam hidup. Sama sama memiliki suami yang lemes (bhs Indonesia yg benar: Lemas) . Bukan lemes di kamar, atau lemes yang lemah gemulai, tapi lemes menghadapi hidup. Mungkin buat lelaki, peran sebagai Imam dalam keluarga atau Kepala rumah tangga tidak ringan. Makin tidak ringan lagi dengan adanya stigma dalam masyarakat yang mungkin tertanam di pikiran suami bahwa idealnya seorang suami lebih sukses dari istri. Idealnya gaji dan karir istri tidak lebih tinggi dari suami. Yang paling ekstrim adalah yang menganggap idealnya istri tidak bekerja, sehingga hanya bergantung kepada suami, masih punya waktu untuk melayani suami, dan diam dirumah mengurus rumah. Untuk yang berpandangan seperti ini tentu tidak salah, selama situasinya memungkinkan. Misal gaji suami sudah mampu bahkan berlebih untuk menanggung kehidupan rumah tangga, lengkap dengan kewajiban membantu minimal keluaga terdekat dan berzakat. Tapi kalau ekonomi keluarga masih perlu dibantu, ya jangan gengsi juga untuk meminta bantuan istri. Bukankah salah satu tujuan menikah untuk bersama sama beribadah kepadaNya? Salah satu bentuk ibadah dalam pernikahan menurut saya adalah berbagi. Berbagi kebahagiaan, berbagi masalah, berbagi beban, berbagi jalan keluar.

Nah ini yang sama yang dihadapi perempuan perempuan yang berseliweran dihadapan saya. Mereka adalah perempuan perempuan perkasa. Gimana engga? Mereka bekerja bukan karena harus bekerja. Situasi yang mengharuskan. Hidup di Jakarta dengan cita cita menyekolahkan anak di sekolah yang baik dan bisa lega berbagi dengan keluarga dan yang memerlukan, belum lagi godaan mall dan pergaulan, ditambah persaingan didunia pekerjaan menyebabkan mereka bekerja bukan lagi hanya atas nama untuk aktualisasi diri, tapi lebih banyak untuk membantu menggapai cita cita. Cita cita kehidupan yang lebih baik. Cita cita yang sebenarnya bisa digapai bersama. Sayangnya tidak sesederhana itu ternyata utk sebagian suami sekalipun mereka perlu dibantu. Sekalipun ada yang suaminya mandeg karirnya di perusahaan tempatnya bekerja , ada suami yg tidak sukses dengan bisnisnya, ada yang menggantungkan hidup pada gaji istri karena belum mendapat pekerjaan yang dia inginkan. Tetap tidak mudah bagi mereka untuk mengakui bahwa kali ini giliran istri yang mendayung. Padahal apa istimewanya hal ini? Bukankah tugas istri untuk membantu suami disituasi seperti itu? Betul. Yang istimewa adalah, suami suami itu bukan hanya tidak menerima kenyataan itu tapi juga tidak menghargai apa yang dilakukan istrinya. Bentuk tidak menghargai beragam. Ada yang kerjanya marah marah dan marah marah setiap hari. Ada yang hanya duduk seharian didepan komputer dikamarnya setiap hari berharap ada keajaiban keluar dari sana tanpa ikhtiar lebih. Ada yang hidupnya berbohong dan berbohong kepada semua orang, dengan harapan orang orang yang dibohongi tetap bangga dengan yang dia sudah capai, walau bohong.

Kenapa harus seperti itu? Kenapa tidak bisa normal2 saja misalnya suami mengakui hari ini situasi lagi susah shg istri yang harus berjalan didepan menopang ekonomi keluarga. Sang istri menjalaninya dengan ikhlas krn percaya barangkali rejeki suami hari ini datang melalui dirinya. Suami mendukung perubahan peran sementara ini. Kenapa tidak bisa se ideal itu? Kenapa harus malu kalau istri sukses? Kenapa harus marah? Kenapa harus berbohong?

Perempuan perempuan perkasa itu masih berseliweran dihadapan saya, mereka harus berjuang bukan hanya secara fisik tapi juga mental. Disatu sisi mereka harus berjuang agar kehidupan terus berlanjut syukur bisa sesuai cita cita, DI sisi lain mereka harus menjaga hati, baik hati sendiri untuk tetap sabar, hati suami yang krn pikirannya sendiri merasa dirinya the looser, hati anak anak, hati keluarga, hati semua orang di lingkungannya.

Yang saya syukuri, walaupun godaan begitu besar datang ke mereka baik dalam bentuk keinginan untuk marah, frustasi, maupun untuk berpaling ke yang lain, mereka masih perempuan perempuan perkasa yang beruntung karena dilembutkan hatinya oleh Sang Khalik. Kesedihan dan kekecewaan mereka ubah dengan segala kemampuan menjadi senyum, doa, sabar, maaf, cinta tanpa syarat, dan akhirnya ikhlas.

Alhamdulillah, sekalipun cerita kehidupan belum selesai, dan saya masih terus menjadi tempat curhat, saya percaya Allah berkenan dengan ikhtiar mereka. Setidaknya hingga hari ini perempuan perempuan ini sudah mampu melampaui hari hari tough, yang belum tentu mudah bagi perempuan lain untuk bertahan. Satu pegangan yang mereka genggam kuat : Allah. Mereka percaya bahwa suami adalah tempat istri menjunjung dan melayani Sang Khalik.


(Lagu: )

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Baca tulisan Hanny ini, mengingatkan saya pada pengalaman hidup beberapa teman saya. Tiap teman saya cerita, saya cuma bisa jadi pendengar yang baik. Ndak bisa memberikan banyak advise cuma bisa berDoa, semoga cinta teman saya dengan pasangannya adalah cinta yang penuh rahmat, agar senantiasa terikat dalam Ridho Allah disetiap kondisi apapun yang sedang dan akan dihadapi.

Jadi kalau boleh usul, judul lagu untuk mensupport tulisan Perempuan Punya Cerita 2 ini 'Anugerah Cinta' duet Heidi Yunus dan Titi DJ.

Salam,

Rika teman perempuannya Chandra