Sabtu, 05 Juli 2008

Perempuan perempuan punya cerita 1

Judul diatas bukan nyontek dari filmnya Nia Dinata yang belum sempat saya tonton, tapi sudah saya baca resensinya dan saya percaya filmnya bagus. Walau belum menonton, film nyata kehidupan perempuan perempuan dan cerita cerita mereka berseliweran dihadapan saya tersimpan di 'black box' kepala saya. Kadang dari cerita mereka timbul keinginan untuk membuat novel atau film atau pameran foto, yang bisa menggambarkan semua yang terekam di memory sehingga bisa menjadi pembelajaran bagi yang lain, yang tak perlu harus mengalami dulu untuk memperoleh hikmahnya. Mudah2an dalam tulisan ini saya pandai menyamarkan orang orang yang mengalami dan mempercayakan cerita kehidupannya, karena saya hanya ingin berbagi hikmah dan syukur kalau bisa mengurangi korban. Karenanya jangan menduga duga ini cerita si anu, kayanya pengalaman si itu. Baca, dan ambil saja hikmahnya.

Ini cerita tentang Tini. Kabur dari kampungnya waktu kelas 5 SD, gak tahan hidup dengan ibu tiri. Ibunya sdh meninggal waktu dia kelas 3 SD. Seperti film Ratapan anak tiri, ayahnya menikah lagi. Sejak itu dia diperlakukan spt pembantu oleh keluarga. Kabur naik truk, berhenti di Jakarta mengais ngais di restoran, sampai mendapatkan kerja sbg pembantu. Beberapa kali berganti majikan, hingga di th 1993 ketemu majikan yang saat ini sudah 15 th dia ikuti. Waktu datang dia adalah perempuan yang tidak punya sopan santun (habis mau mencontoh siapa?). Pakai telfon majikan, pakai shampoo majikan, nguping omongan, tidur2an di sofa kalau majikan tidak dirumah, dan masih banyak lagi yang menyebalkan. Tapi satu hal yang menjadikannya berbeda. Dia senang baca. Sekalipun pendidikan terakhir hanya kelas 5 SD, tapi semua bacaan dirumah majikan dilalap. Ya Kompas, Femina, Tempo, Buku2 agama, Psikologi, kesehatan, kadang majikan belum baca, sudah dibaca duluan di kamarnya. Singkat cerita, itu yang membuat majikannya memaafkan kekurangannya, mendorong kelebihannya dan mempertahankannya. TIni tdk mau melanjutkan sekolah, "males" katanya, kayanya lebih karena minder sudah tua. Alhasil TIni banyak belajar dari buku, majalah, koran, film, semua yang majikannya baca, lihat, lakukan sampai cara bicara majikannya dia contoh.

Tini sempat menikah dengan lelaki yang luar biasa baik, sayangnya orang baik sering tidak diberi umur panjang oleh Allah, shg diusia 5 th pernikahan suaminya meninggal krn penyakit meningitis. Dia menikah lagi dengan lelaki yang bertolak belakang dengan prilaku suami pertamanya. Suami keduanya ini kasar, waktu pacaran aja udah main pukul, tidak bertanggung jawab, anak yang 'spoilt' krn dimanja oleh ibunya di kampung. Sebelum menikah majikannya sudah mengingatkan untuk tidak menikah dengan lelaki ini, tapi namanya juga janda muda, diiming2i duit 5 juta, plus keinginan untuk punya tempat pulang kampung kalau lebaran, diterimalah lamaran itu. Setelah menikah dia tidak menginap dirumah majikan tapi pulang pergi, krn sudah punya suami. Tidak jarang majikannya melihat Tini babak belur, atau kehabisan uang ditengah bulan krn suaminya boros, pemabuk, tidak memberinya uang, main perempuan. Sedih, gemas, rasanya ingin melapor ke polisi setiap kali melihat penderitaan Tini, tapi Tini yang belajar sabar dan agama dari majikan, ternyata sudah berubah menjadi Tini yang memiliki kesabaran kelas advance. Gimana engga advance? Sudah 10 th usia pernikahan mereka, suaminya masih hidup seenak udel, menggantungkan hidup pada istri, walau sudah jauh berkurang main pukulnya. Ya iyalah, rumah, motor, makan, segala keperluan hidup suami siTIni yang penuhi, kalau dia disiksa terus mati, ya yang tersiksa suaminya juga. Dirumahnya ada 3 saudara suaminya laki laki yang hanya menambah beban hidupnya, yang satu sakit jiwa, yang dua gak punya pilihan baik hidup di kampung maupun disini, sama2 gak punya pekerjaan.

Lalu seperti apa Tini hari ini yang terus menerus sedari kecil dirundung malang? Dia tetap Tini yang datang kerumah majikannya jam 6 pagi, pulang jam 6 sore, punya kemauan belajar kuat, bukan penonton sinetron2 kacangan, sholat tepat waktu termasuk dengan sholat sunnahnya, rajin puasa, sekalipun menanggung banyak beban hidup manusia tetap masih bisa menabung dan bersedekah, bahkan menyekolahkan keponakannya sampai lulus SMU. Dan.. ini dia, selalu tersenyum. Kok bisa? " Saya juga gak tau, rasanya hati tenang karena memiliki banyak orang pengganti keluarga yang menyayangi saya. Biarpun hanya lulusan 5 SD tapi saya diberi kemampuan untuk bisa membantu banyak orang. Buat saya itu sudah berkah yang luar biasa dari Allah". Kalau sudah begini, siapa yang belajar dari siapa, siapa yang lebih beruntung dari siapa?

..Dan jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongMu ( )


Tidak ada komentar: