Rabu, 01 Oktober 2008

Ekspresi akhir Ramadhan

Ramadhan mengajarkan kita untuk rendah hati, emphaty, toleransi. Lewat lapar dan haus kita jadi paham betapa kemisikinan bisa membuat orang dekat dengan kekufuran. Bayangkan.. perut lapar dan rasa dahaga apalagi kalau tidak tentu kapan berbuka memang bisa membuat orang menjadi pusing, konsentrasi menurun, mungkin mudah tersinggung, dan terganggu.

Sebulan berpuasa, ditambah memperbanyak ibadah lainnya, walau hanya setahun sekali, harusnya cukup membuat jiwa dan raga di recharge balik ke titik zero. Bersih, putih. Tidak konsumtif, makan untuk hidup bukan hidup untuk makan. Inget orang lain, inget Allah. Itu yg saya pelajari sejak kecil. Pelajaran itu menjadi saya pertanyakan waktu kemarin jalan2 ke pusat2 perbelanjaan. Betapa banyak mereka yg spt lupa sudah berpuasa hampir sebulan penuh. Berlomba lomba berbelanja mengisi troly sepenuh2nya dengan berbagai makanan, pakaian, sepatu, bahkan ada juga blender, penggorengan, sapu, sprei, gordyn, dll. Seperti belanja untuk setahun? Amati juga Para suami yg berdiri menunggu diujung kasir, sptnya was2 melihat angka angka dilayar yg diketik oleh petugas lancar spt tak kan berhenti menyedot THR yang baru saja diperoleh. Sementara si ibu tidak peduli lagi pd angka yang muncul , matanya masih sibuk melihat kesana kemari, spt berfikir "Duh apa lagi ya yg belum kebeli?".

Sebelum muncul pikiran sinis, negatif yg malah merusak ibadah, saya coba kali ini menganalisa pertanyaan dikepala "Kenapa banyak sekali belanja orang2 menjelang lebaran?" Jawabanya: Bisa jadi tamunya banyak yg datang berkunjung pd hari lebaran. Atau..mungkin mau dibagi bagikan pada saat silaturahmi? Atau.. mungkin untuk catering? Atau..mungkin untuk menghormati tamu yang berkunjung, sehingga rumah perlu bersih, barang jelek perlu diganti? Belum puas dengan analisa dikepala, saya tanya ke ibu saya yg berdiri disamping saya yg juga sedang antri di kasir. Jawaban ibu " Lah, gak apa2, setahun sekali ini!". Ups! Ternyata troly ibu juga penuh, tapi saya tahu itu untuk anak cucu (termasuk saya) yg setiap lebaran selalu numpang makan dirumah ibu, krn malas memasak, gak mau repot, dan gak mau rumah berantakan! Ok! Kesimpulannya: Tdk ada yang salah dari pelajaran yang saya peroleh sejak kecil tentang makna Ramadhan, dan tidak ada yg perlu dipertanyakan, krn Ramadhan mengajarkan kita juga untuk menjaga hati tetap bersih. Khusus untuk saya di ramadhan kali ini: bersih dari prasangka.

Selamat merayakan kemenangan. Mohon maaf lahir dan bathin.

Tidak ada komentar: