Menjadi ibu adalah anugrah, karunia, sekaligus tanggung jawab. Anugrah dan karunia karena sejak lahir kita dibekaliNya sifat mengasuh. Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa nikmatnya memiliki sifat ini. Mendekap anak saat keluar dari rahim. Memandang matanya tatkala tengah menikmati air susu didada. Mendongengkan di saat mau tidur. Memeluk tatkala hatinya sedih, takut, dan bahagia. Berdoa disetiap nafas agar anak senantiasa dalam penjagaanNya.
Tidak ada yang mau pensiun dari profesi ini, karena menjadi ibu adalah profesi yang memiliki tanggung jawab besar. Tanggung jawab untuk meninggalkan kebiasaan dan kenangan di benak dan darah anak, yang akan mengantarkannya menjadi manusia yg unik, yang memiliki kekuatan atau kelemahan untuk survive dalam kehidupan.
Ibu saya usia 76th, gesit, wangi, rapih, selalu apik. Beliau adalah salah satu dari para ibu yang menikmati profesinya dan tidak akan pernah pensiun sbg ibu. Seperti ibu2 kebanyakan didunia, setiap hari Ia ingin berada dekat anak, setiap hari pula hati selalu penasaran untuk mengetahui keberadaan anak, setiap hari diisi dengan berdoa untuk anak. Saya sungguh mencintainya sekalipun kadang sedikit terganggu dengan kebahagiaannya menikmati profesinya sbg ibu. Hal ini lebih dikarenakan saya tidak bisa lagi memenuhi keinginan dan kebutuhannya untuk selalu berada didekatnya. Saat ini saya sendiri sudah memiliki keluarga, lengkap dengan kesibukan sebagai wanita bekerja.
Tidak jarang ibu menelfon saya pada saat kesibukan rutin sedang begitu menyita perhatian. Seringkali kali pula beliau menelfon untuk hal hal yang menurut saya masih bisa ditunda, misalnya' just wanna say hi', 'hanya ingin tau lagi dimana', atau ' apa rencana hari ini'. Tentu saya tidak ingin mengecewakan ibu, tapi saya harus bijak memberitahunya bahwa saya sedang melakukan kegiatan yang lebih mendesak, karenanya saya baru bisa menghubungi atau memenuhi keinginannya setelah saya menyelesaikan kegiatan tsb. Kadang ibu tampak kecewa, tapi lebih sering ibu berusaha mengerti, walau tidak heran bila hari hari berikut ibu mengulang kembali aktifitas yg sama dan saya mengulang kembali memberi tanggapan yg serupa.
Sampai suatu saat dikala anak sulung saya sudah hidup terpisah krn sekolah diluar negri, dan kesibukannya bukan hanya sekolah tapi juga bekerja, plus segudang kesibukan yg terkait dengan hobby, maupun kegiatan sosial. Betapa rasanya waktu begitu cepat berlalu. Setiap hari inginnya memeluk, setiap hari selalu rindu, setiap saat doa dilantunkan. Tanpa sadar, saya seringkali mewujudkan kerinduan saya dengan menghubunginya. Kadang lewat internet, sms, kalau tak terjawab pasti saya telfon ke handphonenya. Tidak jarang bila saya mengontaknya melalui handphone, dia akan mengangkat dan setengah berbisik dia mengatakan" Aku lagi kerja bu! lagi kerja!" Pluk! Telfon dimatikan. Dug! Jantung spt ikut dimatikan. Kecewa? Mungkin lebih seperti terkejut. Terkejut karena saya spt baru diputarkan sebuah film yg amat saya kenal, film yg dimainkan oleh saya dan ibu saya hampir setiap hari. Film itu sudah ada versi remix hari ini. Dan dimainkan oleh anak saya sebaik peran yg saya bawakan.
Ini membuat saya sadar, walau rambut anak sudah beruban, ibu tidak akan pernah pensiun sebagai ibu yang mencintai bayinya.
Song: Bunda by Melly Guslaw.
Tidak ada yang mau pensiun dari profesi ini, karena menjadi ibu adalah profesi yang memiliki tanggung jawab besar. Tanggung jawab untuk meninggalkan kebiasaan dan kenangan di benak dan darah anak, yang akan mengantarkannya menjadi manusia yg unik, yang memiliki kekuatan atau kelemahan untuk survive dalam kehidupan.
Ibu saya usia 76th, gesit, wangi, rapih, selalu apik. Beliau adalah salah satu dari para ibu yang menikmati profesinya dan tidak akan pernah pensiun sbg ibu. Seperti ibu2 kebanyakan didunia, setiap hari Ia ingin berada dekat anak, setiap hari pula hati selalu penasaran untuk mengetahui keberadaan anak, setiap hari diisi dengan berdoa untuk anak. Saya sungguh mencintainya sekalipun kadang sedikit terganggu dengan kebahagiaannya menikmati profesinya sbg ibu. Hal ini lebih dikarenakan saya tidak bisa lagi memenuhi keinginan dan kebutuhannya untuk selalu berada didekatnya. Saat ini saya sendiri sudah memiliki keluarga, lengkap dengan kesibukan sebagai wanita bekerja.
Tidak jarang ibu menelfon saya pada saat kesibukan rutin sedang begitu menyita perhatian. Seringkali kali pula beliau menelfon untuk hal hal yang menurut saya masih bisa ditunda, misalnya' just wanna say hi', 'hanya ingin tau lagi dimana', atau ' apa rencana hari ini'. Tentu saya tidak ingin mengecewakan ibu, tapi saya harus bijak memberitahunya bahwa saya sedang melakukan kegiatan yang lebih mendesak, karenanya saya baru bisa menghubungi atau memenuhi keinginannya setelah saya menyelesaikan kegiatan tsb. Kadang ibu tampak kecewa, tapi lebih sering ibu berusaha mengerti, walau tidak heran bila hari hari berikut ibu mengulang kembali aktifitas yg sama dan saya mengulang kembali memberi tanggapan yg serupa.
Sampai suatu saat dikala anak sulung saya sudah hidup terpisah krn sekolah diluar negri, dan kesibukannya bukan hanya sekolah tapi juga bekerja, plus segudang kesibukan yg terkait dengan hobby, maupun kegiatan sosial. Betapa rasanya waktu begitu cepat berlalu. Setiap hari inginnya memeluk, setiap hari selalu rindu, setiap saat doa dilantunkan. Tanpa sadar, saya seringkali mewujudkan kerinduan saya dengan menghubunginya. Kadang lewat internet, sms, kalau tak terjawab pasti saya telfon ke handphonenya. Tidak jarang bila saya mengontaknya melalui handphone, dia akan mengangkat dan setengah berbisik dia mengatakan" Aku lagi kerja bu! lagi kerja!" Pluk! Telfon dimatikan. Dug! Jantung spt ikut dimatikan. Kecewa? Mungkin lebih seperti terkejut. Terkejut karena saya spt baru diputarkan sebuah film yg amat saya kenal, film yg dimainkan oleh saya dan ibu saya hampir setiap hari. Film itu sudah ada versi remix hari ini. Dan dimainkan oleh anak saya sebaik peran yg saya bawakan.
Ini membuat saya sadar, walau rambut anak sudah beruban, ibu tidak akan pernah pensiun sebagai ibu yang mencintai bayinya.
Song: Bunda by Melly Guslaw.
