Rabu, 01 Oktober 2008

Ketika ibu menjadi ibu

Menjadi ibu adalah anugrah, karunia, sekaligus tanggung jawab. Anugrah dan karunia karena sejak lahir kita dibekaliNya sifat mengasuh. Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa nikmatnya memiliki sifat ini. Mendekap anak saat keluar dari rahim. Memandang matanya tatkala tengah menikmati air susu didada. Mendongengkan di saat mau tidur. Memeluk tatkala hatinya sedih, takut, dan bahagia. Berdoa disetiap nafas agar anak senantiasa dalam penjagaanNya.

Tidak ada yang mau pensiun dari profesi ini, karena menjadi ibu adalah profesi yang memiliki tanggung jawab besar. Tanggung jawab untuk meninggalkan kebiasaan dan kenangan di benak dan darah anak, yang akan mengantarkannya menjadi manusia yg unik, yang memiliki kekuatan atau kelemahan untuk survive dalam kehidupan.

Ibu saya usia 76th, gesit, wangi, rapih, selalu apik. Beliau adalah salah satu dari para ibu yang menikmati profesinya dan tidak akan pernah pensiun sbg ibu. Seperti ibu2 kebanyakan didunia, setiap hari Ia ingin berada dekat anak, setiap hari pula hati selalu penasaran untuk mengetahui keberadaan anak, setiap hari diisi dengan berdoa untuk anak. Saya sungguh mencintainya sekalipun kadang sedikit terganggu dengan kebahagiaannya menikmati profesinya sbg ibu. Hal ini lebih dikarenakan saya tidak bisa lagi memenuhi keinginan dan kebutuhannya untuk selalu berada didekatnya. Saat ini saya sendiri sudah memiliki keluarga, lengkap dengan kesibukan sebagai wanita bekerja.

Tidak jarang ibu menelfon saya pada saat kesibukan rutin sedang begitu menyita perhatian. Seringkali kali pula beliau menelfon untuk hal hal yang menurut saya masih bisa ditunda, misalnya' just wanna say hi', 'hanya ingin tau lagi dimana', atau ' apa rencana hari ini'. Tentu saya tidak ingin mengecewakan ibu, tapi saya harus bijak memberitahunya bahwa saya sedang melakukan kegiatan yang lebih mendesak, karenanya saya baru bisa menghubungi atau memenuhi keinginannya setelah saya menyelesaikan kegiatan tsb. Kadang ibu tampak kecewa, tapi lebih sering ibu berusaha mengerti, walau tidak heran bila hari hari berikut ibu mengulang kembali aktifitas yg sama dan saya mengulang kembali memberi tanggapan yg serupa.

Sampai suatu saat dikala anak sulung saya sudah hidup terpisah krn sekolah diluar negri, dan kesibukannya bukan hanya sekolah tapi juga bekerja, plus segudang kesibukan yg terkait dengan hobby, maupun kegiatan sosial. Betapa rasanya waktu begitu cepat berlalu. Setiap hari inginnya memeluk, setiap hari selalu rindu, setiap saat doa dilantunkan. Tanpa sadar, saya seringkali mewujudkan kerinduan saya dengan menghubunginya. Kadang lewat internet, sms, kalau tak terjawab pasti saya telfon ke handphonenya. Tidak jarang bila saya mengontaknya melalui handphone, dia akan mengangkat dan setengah berbisik dia mengatakan" Aku lagi kerja bu! lagi kerja!" Pluk! Telfon dimatikan. Dug! Jantung spt ikut dimatikan. Kecewa? Mungkin lebih seperti terkejut. Terkejut karena saya spt baru diputarkan sebuah film yg amat saya kenal, film yg dimainkan oleh saya dan ibu saya hampir setiap hari. Film itu sudah ada versi remix hari ini. Dan dimainkan oleh anak saya sebaik peran yg saya bawakan.

Ini membuat saya sadar, walau rambut anak sudah beruban, ibu tidak akan pernah pensiun sebagai ibu yang mencintai bayinya.

Song: Bunda by Melly Guslaw.

Pernikahan versi lagu jelek

Ini obrolan waktu lunch di kantor. Kebanyakan dengan para lelaki. Kita sedang membicarakan orang2 yang sudah menikah diatas 20 th ,terus bercerai. Kenapa harus menunggu 20 th untuk bercerai? Apa arti perjalanan sepanjang itu kalau akhirnya bercerai? Kebanyakan kita beranggapan bahwa anaklah selama ini yang mengikat pernikahan itu, sehingga ketika anak sudah mentas hidup sendiri, kita dihadapkan pada dunia nyata yg dulu sembunyi dibalik kesibukan membesarkan anak. Dunia yang memperlihatkan jurang perbedaan. Kebanyakan perbedaan yang diawal pernikahan tampak lucu dan melengkapi, tiba tiba menjadi perbedaan prinsip. Hobby yang berbeda, cara mengelola keuangan yang berbeda, Selera yang berbeda. Hmm..begitu ya?

Yohan kawan saya memberi komentar yang menyebalkan, kurang ajar. Dia bilang " Makanya jangan terlalu terlena dengan hal hal yang indah indah saja. Anggap aja pernikahan itu seperti mendengar lagu jelek! Kalau pertama kali
denger lagu jelek, kita pasti terganggu 'Lagu apa sih nih, lagu kok kayak gini?". Kedua kali mendengar lagu itu kita akan merasa makin terganggu " Norak banget sih nih lagu?", lama2 kalau mendengar lagu tsb, tanpa sadar eh kita mulai bernyanyi mengikuti lagu. Kalau lagu itu hilang dari peredaran, kita mulai merasa ada yang hilang dan gelisah ' Kemana tuh lagu yang ngeselin?". Diam2 lagu itu sudah menjadi bagian hidup kita......

23 Agustus 2008
Ditulis oleh:
Hanny
(yang ikut ketawa,walau tidak setuju).

Ekspresi akhir Ramadhan

Ramadhan mengajarkan kita untuk rendah hati, emphaty, toleransi. Lewat lapar dan haus kita jadi paham betapa kemisikinan bisa membuat orang dekat dengan kekufuran. Bayangkan.. perut lapar dan rasa dahaga apalagi kalau tidak tentu kapan berbuka memang bisa membuat orang menjadi pusing, konsentrasi menurun, mungkin mudah tersinggung, dan terganggu.

Sebulan berpuasa, ditambah memperbanyak ibadah lainnya, walau hanya setahun sekali, harusnya cukup membuat jiwa dan raga di recharge balik ke titik zero. Bersih, putih. Tidak konsumtif, makan untuk hidup bukan hidup untuk makan. Inget orang lain, inget Allah. Itu yg saya pelajari sejak kecil. Pelajaran itu menjadi saya pertanyakan waktu kemarin jalan2 ke pusat2 perbelanjaan. Betapa banyak mereka yg spt lupa sudah berpuasa hampir sebulan penuh. Berlomba lomba berbelanja mengisi troly sepenuh2nya dengan berbagai makanan, pakaian, sepatu, bahkan ada juga blender, penggorengan, sapu, sprei, gordyn, dll. Seperti belanja untuk setahun? Amati juga Para suami yg berdiri menunggu diujung kasir, sptnya was2 melihat angka angka dilayar yg diketik oleh petugas lancar spt tak kan berhenti menyedot THR yang baru saja diperoleh. Sementara si ibu tidak peduli lagi pd angka yang muncul , matanya masih sibuk melihat kesana kemari, spt berfikir "Duh apa lagi ya yg belum kebeli?".

Sebelum muncul pikiran sinis, negatif yg malah merusak ibadah, saya coba kali ini menganalisa pertanyaan dikepala "Kenapa banyak sekali belanja orang2 menjelang lebaran?" Jawabanya: Bisa jadi tamunya banyak yg datang berkunjung pd hari lebaran. Atau..mungkin mau dibagi bagikan pada saat silaturahmi? Atau.. mungkin untuk catering? Atau..mungkin untuk menghormati tamu yang berkunjung, sehingga rumah perlu bersih, barang jelek perlu diganti? Belum puas dengan analisa dikepala, saya tanya ke ibu saya yg berdiri disamping saya yg juga sedang antri di kasir. Jawaban ibu " Lah, gak apa2, setahun sekali ini!". Ups! Ternyata troly ibu juga penuh, tapi saya tahu itu untuk anak cucu (termasuk saya) yg setiap lebaran selalu numpang makan dirumah ibu, krn malas memasak, gak mau repot, dan gak mau rumah berantakan! Ok! Kesimpulannya: Tdk ada yang salah dari pelajaran yang saya peroleh sejak kecil tentang makna Ramadhan, dan tidak ada yg perlu dipertanyakan, krn Ramadhan mengajarkan kita juga untuk menjaga hati tetap bersih. Khusus untuk saya di ramadhan kali ini: bersih dari prasangka.

Selamat merayakan kemenangan. Mohon maaf lahir dan bathin.

Kamis, 10 Juli 2008

Perempuan perempuan punya cerita 2

Perempuan perempuan yang ini punya kesamaan dalam hidup. Sama sama memiliki suami yang lemes (bhs Indonesia yg benar: Lemas) . Bukan lemes di kamar, atau lemes yang lemah gemulai, tapi lemes menghadapi hidup. Mungkin buat lelaki, peran sebagai Imam dalam keluarga atau Kepala rumah tangga tidak ringan. Makin tidak ringan lagi dengan adanya stigma dalam masyarakat yang mungkin tertanam di pikiran suami bahwa idealnya seorang suami lebih sukses dari istri. Idealnya gaji dan karir istri tidak lebih tinggi dari suami. Yang paling ekstrim adalah yang menganggap idealnya istri tidak bekerja, sehingga hanya bergantung kepada suami, masih punya waktu untuk melayani suami, dan diam dirumah mengurus rumah. Untuk yang berpandangan seperti ini tentu tidak salah, selama situasinya memungkinkan. Misal gaji suami sudah mampu bahkan berlebih untuk menanggung kehidupan rumah tangga, lengkap dengan kewajiban membantu minimal keluaga terdekat dan berzakat. Tapi kalau ekonomi keluarga masih perlu dibantu, ya jangan gengsi juga untuk meminta bantuan istri. Bukankah salah satu tujuan menikah untuk bersama sama beribadah kepadaNya? Salah satu bentuk ibadah dalam pernikahan menurut saya adalah berbagi. Berbagi kebahagiaan, berbagi masalah, berbagi beban, berbagi jalan keluar.

Nah ini yang sama yang dihadapi perempuan perempuan yang berseliweran dihadapan saya. Mereka adalah perempuan perempuan perkasa. Gimana engga? Mereka bekerja bukan karena harus bekerja. Situasi yang mengharuskan. Hidup di Jakarta dengan cita cita menyekolahkan anak di sekolah yang baik dan bisa lega berbagi dengan keluarga dan yang memerlukan, belum lagi godaan mall dan pergaulan, ditambah persaingan didunia pekerjaan menyebabkan mereka bekerja bukan lagi hanya atas nama untuk aktualisasi diri, tapi lebih banyak untuk membantu menggapai cita cita. Cita cita kehidupan yang lebih baik. Cita cita yang sebenarnya bisa digapai bersama. Sayangnya tidak sesederhana itu ternyata utk sebagian suami sekalipun mereka perlu dibantu. Sekalipun ada yang suaminya mandeg karirnya di perusahaan tempatnya bekerja , ada suami yg tidak sukses dengan bisnisnya, ada yang menggantungkan hidup pada gaji istri karena belum mendapat pekerjaan yang dia inginkan. Tetap tidak mudah bagi mereka untuk mengakui bahwa kali ini giliran istri yang mendayung. Padahal apa istimewanya hal ini? Bukankah tugas istri untuk membantu suami disituasi seperti itu? Betul. Yang istimewa adalah, suami suami itu bukan hanya tidak menerima kenyataan itu tapi juga tidak menghargai apa yang dilakukan istrinya. Bentuk tidak menghargai beragam. Ada yang kerjanya marah marah dan marah marah setiap hari. Ada yang hanya duduk seharian didepan komputer dikamarnya setiap hari berharap ada keajaiban keluar dari sana tanpa ikhtiar lebih. Ada yang hidupnya berbohong dan berbohong kepada semua orang, dengan harapan orang orang yang dibohongi tetap bangga dengan yang dia sudah capai, walau bohong.

Kenapa harus seperti itu? Kenapa tidak bisa normal2 saja misalnya suami mengakui hari ini situasi lagi susah shg istri yang harus berjalan didepan menopang ekonomi keluarga. Sang istri menjalaninya dengan ikhlas krn percaya barangkali rejeki suami hari ini datang melalui dirinya. Suami mendukung perubahan peran sementara ini. Kenapa tidak bisa se ideal itu? Kenapa harus malu kalau istri sukses? Kenapa harus marah? Kenapa harus berbohong?

Perempuan perempuan perkasa itu masih berseliweran dihadapan saya, mereka harus berjuang bukan hanya secara fisik tapi juga mental. Disatu sisi mereka harus berjuang agar kehidupan terus berlanjut syukur bisa sesuai cita cita, DI sisi lain mereka harus menjaga hati, baik hati sendiri untuk tetap sabar, hati suami yang krn pikirannya sendiri merasa dirinya the looser, hati anak anak, hati keluarga, hati semua orang di lingkungannya.

Yang saya syukuri, walaupun godaan begitu besar datang ke mereka baik dalam bentuk keinginan untuk marah, frustasi, maupun untuk berpaling ke yang lain, mereka masih perempuan perempuan perkasa yang beruntung karena dilembutkan hatinya oleh Sang Khalik. Kesedihan dan kekecewaan mereka ubah dengan segala kemampuan menjadi senyum, doa, sabar, maaf, cinta tanpa syarat, dan akhirnya ikhlas.

Alhamdulillah, sekalipun cerita kehidupan belum selesai, dan saya masih terus menjadi tempat curhat, saya percaya Allah berkenan dengan ikhtiar mereka. Setidaknya hingga hari ini perempuan perempuan ini sudah mampu melampaui hari hari tough, yang belum tentu mudah bagi perempuan lain untuk bertahan. Satu pegangan yang mereka genggam kuat : Allah. Mereka percaya bahwa suami adalah tempat istri menjunjung dan melayani Sang Khalik.


(Lagu: )

Sabtu, 05 Juli 2008

Perempuan perempuan punya cerita 1

Judul diatas bukan nyontek dari filmnya Nia Dinata yang belum sempat saya tonton, tapi sudah saya baca resensinya dan saya percaya filmnya bagus. Walau belum menonton, film nyata kehidupan perempuan perempuan dan cerita cerita mereka berseliweran dihadapan saya tersimpan di 'black box' kepala saya. Kadang dari cerita mereka timbul keinginan untuk membuat novel atau film atau pameran foto, yang bisa menggambarkan semua yang terekam di memory sehingga bisa menjadi pembelajaran bagi yang lain, yang tak perlu harus mengalami dulu untuk memperoleh hikmahnya. Mudah2an dalam tulisan ini saya pandai menyamarkan orang orang yang mengalami dan mempercayakan cerita kehidupannya, karena saya hanya ingin berbagi hikmah dan syukur kalau bisa mengurangi korban. Karenanya jangan menduga duga ini cerita si anu, kayanya pengalaman si itu. Baca, dan ambil saja hikmahnya.

Ini cerita tentang Tini. Kabur dari kampungnya waktu kelas 5 SD, gak tahan hidup dengan ibu tiri. Ibunya sdh meninggal waktu dia kelas 3 SD. Seperti film Ratapan anak tiri, ayahnya menikah lagi. Sejak itu dia diperlakukan spt pembantu oleh keluarga. Kabur naik truk, berhenti di Jakarta mengais ngais di restoran, sampai mendapatkan kerja sbg pembantu. Beberapa kali berganti majikan, hingga di th 1993 ketemu majikan yang saat ini sudah 15 th dia ikuti. Waktu datang dia adalah perempuan yang tidak punya sopan santun (habis mau mencontoh siapa?). Pakai telfon majikan, pakai shampoo majikan, nguping omongan, tidur2an di sofa kalau majikan tidak dirumah, dan masih banyak lagi yang menyebalkan. Tapi satu hal yang menjadikannya berbeda. Dia senang baca. Sekalipun pendidikan terakhir hanya kelas 5 SD, tapi semua bacaan dirumah majikan dilalap. Ya Kompas, Femina, Tempo, Buku2 agama, Psikologi, kesehatan, kadang majikan belum baca, sudah dibaca duluan di kamarnya. Singkat cerita, itu yang membuat majikannya memaafkan kekurangannya, mendorong kelebihannya dan mempertahankannya. TIni tdk mau melanjutkan sekolah, "males" katanya, kayanya lebih karena minder sudah tua. Alhasil TIni banyak belajar dari buku, majalah, koran, film, semua yang majikannya baca, lihat, lakukan sampai cara bicara majikannya dia contoh.

Tini sempat menikah dengan lelaki yang luar biasa baik, sayangnya orang baik sering tidak diberi umur panjang oleh Allah, shg diusia 5 th pernikahan suaminya meninggal krn penyakit meningitis. Dia menikah lagi dengan lelaki yang bertolak belakang dengan prilaku suami pertamanya. Suami keduanya ini kasar, waktu pacaran aja udah main pukul, tidak bertanggung jawab, anak yang 'spoilt' krn dimanja oleh ibunya di kampung. Sebelum menikah majikannya sudah mengingatkan untuk tidak menikah dengan lelaki ini, tapi namanya juga janda muda, diiming2i duit 5 juta, plus keinginan untuk punya tempat pulang kampung kalau lebaran, diterimalah lamaran itu. Setelah menikah dia tidak menginap dirumah majikan tapi pulang pergi, krn sudah punya suami. Tidak jarang majikannya melihat Tini babak belur, atau kehabisan uang ditengah bulan krn suaminya boros, pemabuk, tidak memberinya uang, main perempuan. Sedih, gemas, rasanya ingin melapor ke polisi setiap kali melihat penderitaan Tini, tapi Tini yang belajar sabar dan agama dari majikan, ternyata sudah berubah menjadi Tini yang memiliki kesabaran kelas advance. Gimana engga advance? Sudah 10 th usia pernikahan mereka, suaminya masih hidup seenak udel, menggantungkan hidup pada istri, walau sudah jauh berkurang main pukulnya. Ya iyalah, rumah, motor, makan, segala keperluan hidup suami siTIni yang penuhi, kalau dia disiksa terus mati, ya yang tersiksa suaminya juga. Dirumahnya ada 3 saudara suaminya laki laki yang hanya menambah beban hidupnya, yang satu sakit jiwa, yang dua gak punya pilihan baik hidup di kampung maupun disini, sama2 gak punya pekerjaan.

Lalu seperti apa Tini hari ini yang terus menerus sedari kecil dirundung malang? Dia tetap Tini yang datang kerumah majikannya jam 6 pagi, pulang jam 6 sore, punya kemauan belajar kuat, bukan penonton sinetron2 kacangan, sholat tepat waktu termasuk dengan sholat sunnahnya, rajin puasa, sekalipun menanggung banyak beban hidup manusia tetap masih bisa menabung dan bersedekah, bahkan menyekolahkan keponakannya sampai lulus SMU. Dan.. ini dia, selalu tersenyum. Kok bisa? " Saya juga gak tau, rasanya hati tenang karena memiliki banyak orang pengganti keluarga yang menyayangi saya. Biarpun hanya lulusan 5 SD tapi saya diberi kemampuan untuk bisa membantu banyak orang. Buat saya itu sudah berkah yang luar biasa dari Allah". Kalau sudah begini, siapa yang belajar dari siapa, siapa yang lebih beruntung dari siapa?

..Dan jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongMu ( )


Jumat, 20 Juni 2008

Orang orang terpilih

Ada sederet nama dalam catatan kehidupan saya yang saya kategorikan sebagai orang orang yang membuat saya iri, karena mereka orang orang terpilih. Mereka adalah orang orang yang bukan hanya beruntung karena mendapat hidayah, tapi sudah melakukan perbuatan nyata untuk kemanusiaan. Perbuatan nyata yang diperintahkan Allah dan tercantum dalam Al Qur'an, menjadi rahmatan lil alamin.

Sebut saja Dian dan Eko Pratomo, yang mendirikan yayasan Syamsu Duha, yayasan yang dibuat untuk membantu orang dengan lupus dan orang dengan low vision. Insipirasi membangun yayasan ini muncul tatkala Dian di akhir th 90 an terkena lupus dengan penglihatan hari ini yang tinggal 5%. Padahal sebelumnya Dian adalah wanita karir aktif, corporate PR Manager disebuah bank terkenal. Penyakitnya membuat dia harus meninggalkan karir yang sedang dia jalani dengan semangat. Hebatnya, dia dan suami bergandeng tangan menghadapi ujian ini, bahkan melihatnya sebagai cara Allah untuk memberdayakan mereka dengan kemampuan yang mereka miliki agar mereka mampu berbuat lebih banyak lagi bagi umat. Berapa banyak sudah orang dengan lupus dan low vision yang terbantu karena adanya yayasan ini. Sakit istri malah membuat Eko suaminya mampu menulis dan menerbitkan 6 buku. Salah satunya yang sajib dibaca adalah "Miracle of Love". Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik siapapun yang membacanya.

Ada lagi ibu Sarejat. Ibu keturunan arab yang menguasai 18 titik kumuh di Jakarta. Puluhan tahun hidupnya dihabiskan hanya untuk membantu mereka yang tenggelam dibalik gemerlapnya ibu kota. Kalau bukan karena didampingi ibu Sarejat, belum tentu saya bisa mengunjungi kawasan2 itu. Kawasan yang biasanya hanya saya lihat dan dengar di media, seolah olah letaknya jauhhh dari negara kita. Tanpa ibu Sarejat belum tentu saya pernah menginjak kehidupan mereka yang sehari harinya hidup diatas sampah. Belum tentu saya punya kesempatan untuk bisa berdialog dengan mereka yang sering hanya bisa makan 1 mie instant untuk se keluarga. Kenapa? Pertama belum tentu kita sanggup dan tahan memasuki kawasan yang kita kategorikan 'stadium 4' karena parahnya kemiskinan disana. Kedua, belum tentu selamat maksud baik kita untuk membantu, karena seberapapun bantuan kita, tidak akan pernah bisa membuat mereka menjadi cukup santun untuk tidak berebut mengambil bantuan, atau bahkan memaki bila ternyata bantuannya kurang. Dan ibu Sarejat, ntah apa yang sudah dia lakukan. Pasti tak terhitung, karena kedatangannya mampu membuat penduduk miskin menaruh hormat terhadap tamu tamu siapapun yang dibawanya, sehingga bantuan sekecil apapun sampai langsung ke tangan yang berhak, tanpa insiden. Mungkin ada, tapi saya tidak pernah dengar. Terakhir saya dengar ibu Sarejat menangis, karena kaum duafa yang saya sempat kunjungi banyak yang meninggal, krn kelaparan. Mereka tidak butuh kail, mereka butuh makan.

Masih ada sederet nama2 lain di list saya, seperti Ustadz Houtman. Ustadz yang paling sering mengajak saya berkenalan dengan orang orang terpilih. Beliau sendiri bersama istrinya Ibu Sri, menurut saya adalah juga orang terpilih. Bayangkan, bersama istri disaat keduanya sedang menikmati karir puncaknya di bank, mereka putuskan meninggalkan karir, karena ingin mendedikasikan diri kepada Allah, dengan mengumpulkan bekal hari akhir. Caranya dari mulai mendirikan yayasan untuk yatim piatu, sampai dengan membantu lansia, duafa, mempertemukan mereka yang berkecukupan dengan mereka yang berkekurangan. Yang luar biasa adalah, mengadopsi 60 anak dirumahnya, diluar 2 anak kandungnya. Anak anak itu ada yang ditemukan di kala banjir, diletakkan oleh orang didepan rumahnya, dimana saja. Dan tidak semua anak angkatnya sehat, ada yang cacat secara fisik, dan mental. Kalau saya tanya" Bagaimana rasanya pulang kerumah dengan sebegitu banyak manusia?" ,Jawabannya enteng " Nikmat. Ada yang naik keatas punggung, ada yang memeluk, ada yang berteriak, ada yang berantem berebut perhatian". Hmm...nikmat? Lalu kenapa saya hanya punya anak dua ya?

Adalagi mas Siswanto. Dia mendedikasikan dirinya menangani anak2 jalanan, dari yang tadinya membimbing dari sebuah bedeng diatas rawa penuh genangan air berwarna hijau. Membimbing untuk memberi tambahan pengetahuan dan ketrampilan agar anak2 gelandangan bisa keluar dari liarnya kehidupan jalanan. Ketekunannya membantu membuahkan hasil. Saat ini Yayasan Himata, yayasan yang dikelolanya sudah dibiayai banyak donatur sehingga memiliki asrama sekaligus tempat kursus ketrampilan yang layak. Anak2nya bahkan beberapa sudah bisa hidup mandiri, tidak lagi bergelandang, tapi berbisnis kecil2an.

Ada Suster Lily. Satu diantara suster2 di RSCM yang mendedikasikan sebagian besar gajinya untuk fakir miskin yang harus dirawat di RSCM. Mungkin saja diantara mereka orang2 miskin yang dirawat disana sudah mendapat bantuan dari pemerintah untuk perawatannya, tapi bagaimana dengan uang transport, makan dan tinggal bagi keluarga yang menunggui yang kebanyakan untuk kehidupan sehari hari sudah sulit? Ada yang bahkan harus berkali kali balik, dirawat dan di operasi lagi, pdhal jatah bantuan pemerintah sudah tdk bisa diperoleh lagi. Malaikat malaikat penolong turun dalam hati suster Lily juga bbrp suster lainnya. Pernah main ke RSCM bangsal anak? Ditanggung melamun pulangnya. Kemana aja sekian lama tinggal di Jakarta baru tau untuk melihat dimana duafa berada ternyata dekat2 saja?

Orang terpilih lainnya: Bang Arif. Tepatnya Arief Mulyadi. Awal th 2000an dapat hidayah, sebelumnya hidupanya berantakan, hancur ! Semua yang dilarang agama sudah dia lakukan sampai disatu titik 5 dari 6 ganknya berbuat kerusakan, mati. Ada yg ditembak polisi, ada yang dibunuh dll. Bang Arief pasti disayang Allah, krn masih diberi kesempatan utk insyaf, taubat, dan berbuat kebaikan. Sejak taubatnya dia memperdalam AlQur'an, khususnya content/terjemahannya, krn menurutnya terlambat kalau dia belajar tajwid dan bahasa arab, walau itu yang paling efektif. Dalam waktu 6 bulan di hafal dan paham, shg tau ayat mana diterangkan oleh ayat mana. Ilmu itu yang dia syiarkan hingga hari ini. Bermula dari pengajian di keluarga Suci, dimana saya se Kel mengikuti, sampai akhirnya sekarang sudah syiar ke banyak pelosok Indonesia, dibiayai oleh seseorang, dengan tujuan: anak TK s/d SD belajar tajwid, SMP belajar terjemahan, SMA belajar bahasa arab, shg lengkapnya pehaman kita tentang guidance Allah. Dengan demikian insya Allah prilaku kita juga sesuai petunjukNya. 2 tahun terakhir kesibukannya bertambah yaitu memaksimalkan fungsi posyandu dan mesjid disetiap wilayah untuk mengentaskan kemiskinan sekaligus meningkatkan pendidikan di wilayah tsb. Konsep yang bagus sekali, yang bila diterapkan oleh semua orang, mudah2an mengurangi kemiskinan, kebodohan, dan kejahatan di seluruh wilayah Indonesia. Pasti bukan pekerjaan gampang. Bukankah spt tertulis di Al Qur'an' ..Sebagian besar manusia tidak beriman'.


Kemarin saya mendapat kesempatan berkenalan sekaligus berkunjung ke Yayasan Darul Quran, wialayah yang dibangun Ustadz Yusuf Mansyur, ustadz yang memulai profesinya sebagai ustadz setelah melewati ujian kehidupan dimana dia terlibat hutang yang cukup besar, hingga menyeretnya dua kali masuk penjara. Namun ujian itu pula yang membuat dia bertekad memperbaiki hidup dengan mengisinya untuk melestarikan ayat ayat Allah. Salah satu yang banyak dia amalkan untuk dipelajari dan dijalani oleh orang lain, adalah kedahsyatan bersedekah. Dari pengalamannya dan pengalaman banyak orang yang sudah mengikuti amalan sedekah yang diajarkan dan mampu membuktikan betapa dahsyatnya janji Allah kepada mereka yang ikhlas bersedekah. Janji itu memang tertulis di al Qur'an yang tidak keraguan sedikitpun terhadap isinya walau manusia seringkali membutuhkan bukti bukti nyata untuk memahami, dan bukti bukti nyata lagi untuk mulai bergerak, dan bukti bukti nyata untuk terus melaksanakan. Begitulah manusia, yang di Al Quran dikatakan sebagian besar bersifat kikir.

Nikmatnya menikmati Ashar, maghrib hingga Isya di pesantren Darul Qur'an sambil menikmati hidangan sate ayam bakar, ikan goreng rica, sambil berbincang dengan ustadz yang usianya belum lagi 40 sudah mampu membuat pesantren, asrama, dan sekolah baik bagi kaum duafa yang berpresetasi, maupun sekolah dengan skala international yang tidak kalah dengan sekolah sekolah international yang bertebaran diJakarta. Semua terlaksana hanya dalam kurun waktu 5 tahun dari hijrahnya menjadi orang yang lebih baik sesuai perintahNya.

Berkenalan, berkawan dan dekat dengan mereka semua membuat hati terisi, hidup termotivasi, dan sejuk. Mungkin gak ya saya bisa seperti mereka? Atau saya kebagian peran yang berbeda dari Nya? Mudah2an apapun itu, tetap peran yang memberi banyak kebaikan bagi umat, dan saya mampu memerankannya dengan maksimal. Amin.

( Song; One Voice, by Barry Manillow)

Kamis, 24 April 2008

Belum (terlalu) terlambat

Tulisan dibawah adalah tulisan Dewi lestari, penyanyi sekaligus penulis novel. Tulisan yang berangkat dari kegundahan yang sama yg saya rasakan belakangan ini. Kemana aja baru sekarang sadar? Mungkin karena kemarin belum nyata akibat dari perbuatan kita. Sekarang rasakan sendiri ketakutan akan musnahnya kesenangan yang sudah diberikanNya gratis sebelum anak cucu sempat mencicipi. Tulisan Dewi lestari ini harus disimpan, untuk terus mengingatkan bahwa waktu tidak bisa menunggu, lakukan sekarang juga, jangan berhenti sekalipun nafas sudah terhenti.

Harta Karun Untuk Semua
oleh Dewi Lestari

Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku
yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: "Stuff ,The Secret
Lives of Everyday Things". Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi informasi
di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana barang-barang
kita berasal dan ke mana barang-barang kita berakhir.

Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan waktu
ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung: orang gila mana yang
mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masa penggunaannya hanya
dalam skala jam-bahkan detik? Bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh
detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur
setelah si pemakan permen menjadi fosil.

Sukar membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa
deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion. Dan sebagai
konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai
pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi
telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana
kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon
yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan
yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.

Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa
wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita
bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita
sendiri?

Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk mencuci
secangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis daging
burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter
air. Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja kita
menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik
2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang
dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada berat
chip itu sendiri.

Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai reaksi.
Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya hidup yang tak
bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau pusing. Yang
jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya dibuka.
Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar penampang daun dan membedah jantung
katak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari hulu dan hilir dari
benda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung jawab akan alam ini telah
disosialisasikan sejak kecil.

Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai, Pasar
Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada lautan PKL:
tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk
satu kota? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi?
Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar.
Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat ratusan
macam biskuit, ratusan varian mie instan, dan ratusan merk sabun:haruskah
kita memiliki pilihan sebanyak itu?

Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi
apa yang kita butuhkan?

Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam
setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidak berbatas.
Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan
panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan
sanggup memenuhi keinginan satu manusia.

Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang ekonom
mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi.
Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan.
Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara,
negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu,
permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita. Dan kesadaran serta kemauan
kitalah yang pada akhirnya akan memungkinkan sebuah perubahan sejati.

Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi sangat
menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protocol Kyoto, tidak
perlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap langkah kita-memilih
merk, kuantitas, tempat, gaya hidup-adalah pilihan politis dan ekologis yang
menentukan masa depan seisi Bumi.

Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya bekerja,
tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika tidak
perlu. Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi, tapi saya bisa
memilih membaca berita lewat internet atau membaca koran di tempat publik
ketimbang berlangganan langsung. Bagaimana dengan fashion?
Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di muka
publik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan fashion (baca: membeli
busana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa membuat komitmen
dengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki tidak boleh melebihi
kapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada yang keluar. Dan setiap
beberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada baju yang tidak saya
pakai setahun lebih atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernah lagi.
Bukan cuma baju, ada juga buku, pernik rumah, alat dapur, bahkan sabun dan
sampo yang utuh tak disentuh.

Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti 'harta karun', yang
berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jika
dipertahankan hanya menjadi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta karun
ini lantas harus dicarikan lagi outlet untuk penyaluran.

Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar.
Para warga menyewa stand untuk berjualan. Saya ikut berpartisipasi, dan
sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang-baru
baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan
harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari
kampung sekitar. Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan. Terpaksa saya
mengontak saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekas untuk
disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karun yang
entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling laris
selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan
yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.

Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif
lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan.
Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen pembatasan
diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamar
mandi, dengan laci dapur, dan pada intinya... dengan diri sendiri. Siapkah
kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?

Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengendalian diri dari awal bersua aneka
pilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar dan mawas akan rantai
sebab-akibat yang menyertai pilihan kita. Membuka diri untuk info dan
pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik.
Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresek
yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang
kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu
tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu.

Banyak orang yang berkomentar pada saya, "Aduh, Wi. Kamu bikin hidup tambah
susah saja." Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita justru
harus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang lebih
sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan
kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga
membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadikan alas kaki oleh industri
demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri.

Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah.

Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita
bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya
kita cari.

Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan.
(Song; Heal the world by)