Baru saja pulang dari melayat uwa tercinta. Meninggal kemarin Senin 7 april'08 jam 11 malam, diusia 96 th, dalam keadaan tidur, tidak ada yang mendampingi. Bibirnya sedikit tersenyum seakan berkata, "Akhirnya datang juga". Begitu lama beliau menanti waktu pulang, setelah suaminya meninggal 33 th yg lalu, menyusul menantunya 5 th yang lalu, dan putri satu2nya setahun yang lalu. Sejak itu kesehatannya merosot, sekalipun ada 3 cucu mendampingi.
Hampir semua yang dekat dengan kehidupannya pergi lebih dahulu, walau usia mereka masih jauh lebih muda. Supirnya, tetangganya, saudaranya. " Kenapa mereka meninggal lebih dulu? Mereka kan masih dibutuhkan didunia", begitu keluhnya. "Sing sabar, uwa" begitu kata saya setiap lebaran setahun sekali menjenguknya. Enak ya jadi penjenguk, enteng aja menyuruh sabar, padahal coba rasakan sendiri. Usia 96 th, masih bisa berpikir baik, tapi badan hanya bisa tergeletak ditempat tidur. Semua semua tergantung orang yang membantu. Mau kenyang, kalau sudah waktu makan ya dipaksa makan. Mau baca, nonton, mata sudah rabun, yang kelihatan hanya cahaya. Mau ngobrol, pendengaran sudah jauh berkurang, yang diajak ngobrolpun seperti tidak menangkap arah bicara. Mau kebelakang, boro boro, yang namanya depan- belakang ya ditempat tidur itu. Duduk sakit, telentang sesak, berdiri apalagi. Berjalan? Hanya tinggal mimpi. Maka harapan terindah yang tersisa hanyalah pulang. Pulang dalam arti sesungguhnya, kembali ke Sang Pemilik.
Lalu untuk apa dong lagu'Panjang umur' kita dendangkan disetiap ulang tahun? Mungkin maunya umur panjang tapi sehat. Sehat sekalipun, kalau dikasih umur terlalu panjang, apa enak? Mungkin sudah tidak ada lagi kawan bicara yang cocok, karena belum tentu kawan seusia masih banyak. Mau kerja, pekerjaan apalagi yang sesuai? Olahraga yang pas? film yang ditunggu? Lagu kenangan yang sering diputar? Apalagi membantu orang lain, diri sendiri saja perlu bantuan.
Uwa bener, waktu diulang tahunnya saya beri selamat sambil mendoakan 'Semoga panjang umur ya Wa'. Dengan cepat uwa menjawab " Ah, entong panjang panjang teuing!". Ternyata umur panjang belum tentu yang terbaik yang kita minta. Mungkin masih lebih baik bila permintaan dan doa diubah menjadi " Semoga diberi umur yang berkah". Berapapun yang Allah kasih, semoga menjadi berkah bagi pemilik umur. Berkah di Dunia dan di Akhirat.
Uwa, have a lovely never ending journey! If u meet my dad, please tell him that I miss him, always.
(Song: When will I see u again)
Hampir semua yang dekat dengan kehidupannya pergi lebih dahulu, walau usia mereka masih jauh lebih muda. Supirnya, tetangganya, saudaranya. " Kenapa mereka meninggal lebih dulu? Mereka kan masih dibutuhkan didunia", begitu keluhnya. "Sing sabar, uwa" begitu kata saya setiap lebaran setahun sekali menjenguknya. Enak ya jadi penjenguk, enteng aja menyuruh sabar, padahal coba rasakan sendiri. Usia 96 th, masih bisa berpikir baik, tapi badan hanya bisa tergeletak ditempat tidur. Semua semua tergantung orang yang membantu. Mau kenyang, kalau sudah waktu makan ya dipaksa makan. Mau baca, nonton, mata sudah rabun, yang kelihatan hanya cahaya. Mau ngobrol, pendengaran sudah jauh berkurang, yang diajak ngobrolpun seperti tidak menangkap arah bicara. Mau kebelakang, boro boro, yang namanya depan- belakang ya ditempat tidur itu. Duduk sakit, telentang sesak, berdiri apalagi. Berjalan? Hanya tinggal mimpi. Maka harapan terindah yang tersisa hanyalah pulang. Pulang dalam arti sesungguhnya, kembali ke Sang Pemilik.
Lalu untuk apa dong lagu'Panjang umur' kita dendangkan disetiap ulang tahun? Mungkin maunya umur panjang tapi sehat. Sehat sekalipun, kalau dikasih umur terlalu panjang, apa enak? Mungkin sudah tidak ada lagi kawan bicara yang cocok, karena belum tentu kawan seusia masih banyak. Mau kerja, pekerjaan apalagi yang sesuai? Olahraga yang pas? film yang ditunggu? Lagu kenangan yang sering diputar? Apalagi membantu orang lain, diri sendiri saja perlu bantuan.
Uwa bener, waktu diulang tahunnya saya beri selamat sambil mendoakan 'Semoga panjang umur ya Wa'. Dengan cepat uwa menjawab " Ah, entong panjang panjang teuing!". Ternyata umur panjang belum tentu yang terbaik yang kita minta. Mungkin masih lebih baik bila permintaan dan doa diubah menjadi " Semoga diberi umur yang berkah". Berapapun yang Allah kasih, semoga menjadi berkah bagi pemilik umur. Berkah di Dunia dan di Akhirat.
Uwa, have a lovely never ending journey! If u meet my dad, please tell him that I miss him, always.
(Song: When will I see u again)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar