Jumat, 14 Maret 2008

Early script Slice of life




Seperti ada yg menarik mundur puluhan tahun ke belakang saat mencoba menulis kembali . Saat itu pertengahan th 70. Baru kelas 5 SD. Buku harian tidak pernah terpisah jauh dari jangkauan. Semua yg terlihat, terdengar, terfikir, terasa, ditulis. Tulis saja, ketemu siapa tadi, apa yang menarik dari pertemuan itu, siapa yg bikin marah, apa yang bikin tersenyum, kenapa menangis, punya mimpi apa, curahkan dalam tulisan. Curahkan sampai kemarahan hilang, kekecewaan pudar, kegembiraan meningkat. Hidup terasa ringan. Senyum. Setelah itu simpan rapat rapat, jangan pernah boleh ada yang melihat.

Tahun 90 an. Beragam buku harian memenuhi lemari, tidak terasa sudah 15 th perjalanan hidup terekam. Lalu berhenti. Buku terakhir ada di lemari, setengah terisi, tidak ditulis lagi. Padahal belum mati. Alasannya klasik. Gak ada waktu. Sibuk. Sibuk dengan berbagai peran yang dimainkan dengan sungguh sungguh. Peran peran yang datang sendiri dari Sang Sutradara. Kalau asal memerankannya, rugi sendiri.


Waktu terus bergulir. Benak mulai dipenuhi pertanyaan. Peran apa saja yang sudah dimainkan? Seperti apa mainnya? Seperti apa filmnya? Siapa yang pernah terlibat? Siapa yang pernah mendapat manfaat? Berapa lama lagi punya kesempatan?

15 maret 2008. Duduk dihadapan komputer. Mulai menulis lagi setelah lama berhenti. Bukan dibuku tapi disini. Menulis lagi seperti dulu, dengan hati.

Tulis, Slice of life, synopsis tentang kehidupan. Setiap potongan yg terekam, sesingkat dan seringan apapun adalah pelajaran dari university of life, untuk dibagi.

Bukankah hidup ada untuk melestarikan ayat ayatNya?
(Song: The Greatest Love of all. By Whitney Houston)


Tidak ada komentar: