Rabu, 19 Maret 2008

Terima kasih, Sahabat



Hingga hari ini, beberapa tahun setelah istrinya berpulang, tidak terlintas dibenaknya untuk menikah lagi. "Dia tidak tergantikan", begitu selalu alasannya. Memiliki wajah tampan untuk usianya yang tidak lagi muda, punya usaha yang mapan , dan anak anak yang sekolahnya sudah tuntas. Mungkin orang akan melihat keteguhan pendiriannya sebagai bukti bahwa dia adalah suami yang ideal yang diimpikan semua mahluk wanita didunia. Pasti dia suami yang penuh perhatian, yang tidak sungkan menunjukkan kasih sayangnya. Pasti dia suami yang tidak akan membiarkan kesedihan singgah dihati istrinya. Pasti dia suami yang memiliki dada dan bahu yang kuat untuk menampung segudang kegundahan istri. Pasti dia suami yang selalu membawa kegembiraan disetiap nafas. Pasti dia suami yang setia.

Gambaran suami seperti itulah yang selalu didambakan almarhumah istrinya. Sama seperti pasangan lain didunia yang membawa mimpi masa kecilnya. Mimpi tentang kehidupan pernikahan yang didongengkan banyak ibu sebelum anak tidur selalu indah"..and finally, they lived happily ever after". Klik! Lampu dimatikan, dan anak tidur dengan mimpi pangeran tampan dan putri jelita yang hidup berbahagia,selamanya.

Sulit membedakan antara dongeng dan kenyataan. Hidup dengan bekal dongeng hanya akan membuat kecewa, krn akhir cerita belum tentu seperti cerita ibu. Salah ibu? Ya bukan. Lalu salah siapa? Salah manusia yang tidak berusaha menciptakan cerita cerita indah dari kehidupan nyata. Cerita yang bisa jadi dongeng anak cucu, dan pantas ditiru.

Kalau saja waktu bisa ditarik mundur.


Terima kasih sahabat, atas pelajaran berharga yang ditinggalkan, untuk kami yang masih ada.
(Song; Lagu untuk Riri. By RAN. Atas usul Hakim)





Jumat, 14 Maret 2008

Early script Slice of life




Seperti ada yg menarik mundur puluhan tahun ke belakang saat mencoba menulis kembali . Saat itu pertengahan th 70. Baru kelas 5 SD. Buku harian tidak pernah terpisah jauh dari jangkauan. Semua yg terlihat, terdengar, terfikir, terasa, ditulis. Tulis saja, ketemu siapa tadi, apa yang menarik dari pertemuan itu, siapa yg bikin marah, apa yang bikin tersenyum, kenapa menangis, punya mimpi apa, curahkan dalam tulisan. Curahkan sampai kemarahan hilang, kekecewaan pudar, kegembiraan meningkat. Hidup terasa ringan. Senyum. Setelah itu simpan rapat rapat, jangan pernah boleh ada yang melihat.

Tahun 90 an. Beragam buku harian memenuhi lemari, tidak terasa sudah 15 th perjalanan hidup terekam. Lalu berhenti. Buku terakhir ada di lemari, setengah terisi, tidak ditulis lagi. Padahal belum mati. Alasannya klasik. Gak ada waktu. Sibuk. Sibuk dengan berbagai peran yang dimainkan dengan sungguh sungguh. Peran peran yang datang sendiri dari Sang Sutradara. Kalau asal memerankannya, rugi sendiri.


Waktu terus bergulir. Benak mulai dipenuhi pertanyaan. Peran apa saja yang sudah dimainkan? Seperti apa mainnya? Seperti apa filmnya? Siapa yang pernah terlibat? Siapa yang pernah mendapat manfaat? Berapa lama lagi punya kesempatan?

15 maret 2008. Duduk dihadapan komputer. Mulai menulis lagi setelah lama berhenti. Bukan dibuku tapi disini. Menulis lagi seperti dulu, dengan hati.

Tulis, Slice of life, synopsis tentang kehidupan. Setiap potongan yg terekam, sesingkat dan seringan apapun adalah pelajaran dari university of life, untuk dibagi.

Bukankah hidup ada untuk melestarikan ayat ayatNya?
(Song: The Greatest Love of all. By Whitney Houston)