Rabu, 01 Oktober 2008

Ketika ibu menjadi ibu

Menjadi ibu adalah anugrah, karunia, sekaligus tanggung jawab. Anugrah dan karunia karena sejak lahir kita dibekaliNya sifat mengasuh. Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa nikmatnya memiliki sifat ini. Mendekap anak saat keluar dari rahim. Memandang matanya tatkala tengah menikmati air susu didada. Mendongengkan di saat mau tidur. Memeluk tatkala hatinya sedih, takut, dan bahagia. Berdoa disetiap nafas agar anak senantiasa dalam penjagaanNya.

Tidak ada yang mau pensiun dari profesi ini, karena menjadi ibu adalah profesi yang memiliki tanggung jawab besar. Tanggung jawab untuk meninggalkan kebiasaan dan kenangan di benak dan darah anak, yang akan mengantarkannya menjadi manusia yg unik, yang memiliki kekuatan atau kelemahan untuk survive dalam kehidupan.

Ibu saya usia 76th, gesit, wangi, rapih, selalu apik. Beliau adalah salah satu dari para ibu yang menikmati profesinya dan tidak akan pernah pensiun sbg ibu. Seperti ibu2 kebanyakan didunia, setiap hari Ia ingin berada dekat anak, setiap hari pula hati selalu penasaran untuk mengetahui keberadaan anak, setiap hari diisi dengan berdoa untuk anak. Saya sungguh mencintainya sekalipun kadang sedikit terganggu dengan kebahagiaannya menikmati profesinya sbg ibu. Hal ini lebih dikarenakan saya tidak bisa lagi memenuhi keinginan dan kebutuhannya untuk selalu berada didekatnya. Saat ini saya sendiri sudah memiliki keluarga, lengkap dengan kesibukan sebagai wanita bekerja.

Tidak jarang ibu menelfon saya pada saat kesibukan rutin sedang begitu menyita perhatian. Seringkali kali pula beliau menelfon untuk hal hal yang menurut saya masih bisa ditunda, misalnya' just wanna say hi', 'hanya ingin tau lagi dimana', atau ' apa rencana hari ini'. Tentu saya tidak ingin mengecewakan ibu, tapi saya harus bijak memberitahunya bahwa saya sedang melakukan kegiatan yang lebih mendesak, karenanya saya baru bisa menghubungi atau memenuhi keinginannya setelah saya menyelesaikan kegiatan tsb. Kadang ibu tampak kecewa, tapi lebih sering ibu berusaha mengerti, walau tidak heran bila hari hari berikut ibu mengulang kembali aktifitas yg sama dan saya mengulang kembali memberi tanggapan yg serupa.

Sampai suatu saat dikala anak sulung saya sudah hidup terpisah krn sekolah diluar negri, dan kesibukannya bukan hanya sekolah tapi juga bekerja, plus segudang kesibukan yg terkait dengan hobby, maupun kegiatan sosial. Betapa rasanya waktu begitu cepat berlalu. Setiap hari inginnya memeluk, setiap hari selalu rindu, setiap saat doa dilantunkan. Tanpa sadar, saya seringkali mewujudkan kerinduan saya dengan menghubunginya. Kadang lewat internet, sms, kalau tak terjawab pasti saya telfon ke handphonenya. Tidak jarang bila saya mengontaknya melalui handphone, dia akan mengangkat dan setengah berbisik dia mengatakan" Aku lagi kerja bu! lagi kerja!" Pluk! Telfon dimatikan. Dug! Jantung spt ikut dimatikan. Kecewa? Mungkin lebih seperti terkejut. Terkejut karena saya spt baru diputarkan sebuah film yg amat saya kenal, film yg dimainkan oleh saya dan ibu saya hampir setiap hari. Film itu sudah ada versi remix hari ini. Dan dimainkan oleh anak saya sebaik peran yg saya bawakan.

Ini membuat saya sadar, walau rambut anak sudah beruban, ibu tidak akan pernah pensiun sebagai ibu yang mencintai bayinya.

Song: Bunda by Melly Guslaw.

Pernikahan versi lagu jelek

Ini obrolan waktu lunch di kantor. Kebanyakan dengan para lelaki. Kita sedang membicarakan orang2 yang sudah menikah diatas 20 th ,terus bercerai. Kenapa harus menunggu 20 th untuk bercerai? Apa arti perjalanan sepanjang itu kalau akhirnya bercerai? Kebanyakan kita beranggapan bahwa anaklah selama ini yang mengikat pernikahan itu, sehingga ketika anak sudah mentas hidup sendiri, kita dihadapkan pada dunia nyata yg dulu sembunyi dibalik kesibukan membesarkan anak. Dunia yang memperlihatkan jurang perbedaan. Kebanyakan perbedaan yang diawal pernikahan tampak lucu dan melengkapi, tiba tiba menjadi perbedaan prinsip. Hobby yang berbeda, cara mengelola keuangan yang berbeda, Selera yang berbeda. Hmm..begitu ya?

Yohan kawan saya memberi komentar yang menyebalkan, kurang ajar. Dia bilang " Makanya jangan terlalu terlena dengan hal hal yang indah indah saja. Anggap aja pernikahan itu seperti mendengar lagu jelek! Kalau pertama kali
denger lagu jelek, kita pasti terganggu 'Lagu apa sih nih, lagu kok kayak gini?". Kedua kali mendengar lagu itu kita akan merasa makin terganggu " Norak banget sih nih lagu?", lama2 kalau mendengar lagu tsb, tanpa sadar eh kita mulai bernyanyi mengikuti lagu. Kalau lagu itu hilang dari peredaran, kita mulai merasa ada yang hilang dan gelisah ' Kemana tuh lagu yang ngeselin?". Diam2 lagu itu sudah menjadi bagian hidup kita......

23 Agustus 2008
Ditulis oleh:
Hanny
(yang ikut ketawa,walau tidak setuju).

Ekspresi akhir Ramadhan

Ramadhan mengajarkan kita untuk rendah hati, emphaty, toleransi. Lewat lapar dan haus kita jadi paham betapa kemisikinan bisa membuat orang dekat dengan kekufuran. Bayangkan.. perut lapar dan rasa dahaga apalagi kalau tidak tentu kapan berbuka memang bisa membuat orang menjadi pusing, konsentrasi menurun, mungkin mudah tersinggung, dan terganggu.

Sebulan berpuasa, ditambah memperbanyak ibadah lainnya, walau hanya setahun sekali, harusnya cukup membuat jiwa dan raga di recharge balik ke titik zero. Bersih, putih. Tidak konsumtif, makan untuk hidup bukan hidup untuk makan. Inget orang lain, inget Allah. Itu yg saya pelajari sejak kecil. Pelajaran itu menjadi saya pertanyakan waktu kemarin jalan2 ke pusat2 perbelanjaan. Betapa banyak mereka yg spt lupa sudah berpuasa hampir sebulan penuh. Berlomba lomba berbelanja mengisi troly sepenuh2nya dengan berbagai makanan, pakaian, sepatu, bahkan ada juga blender, penggorengan, sapu, sprei, gordyn, dll. Seperti belanja untuk setahun? Amati juga Para suami yg berdiri menunggu diujung kasir, sptnya was2 melihat angka angka dilayar yg diketik oleh petugas lancar spt tak kan berhenti menyedot THR yang baru saja diperoleh. Sementara si ibu tidak peduli lagi pd angka yang muncul , matanya masih sibuk melihat kesana kemari, spt berfikir "Duh apa lagi ya yg belum kebeli?".

Sebelum muncul pikiran sinis, negatif yg malah merusak ibadah, saya coba kali ini menganalisa pertanyaan dikepala "Kenapa banyak sekali belanja orang2 menjelang lebaran?" Jawabanya: Bisa jadi tamunya banyak yg datang berkunjung pd hari lebaran. Atau..mungkin mau dibagi bagikan pada saat silaturahmi? Atau.. mungkin untuk catering? Atau..mungkin untuk menghormati tamu yang berkunjung, sehingga rumah perlu bersih, barang jelek perlu diganti? Belum puas dengan analisa dikepala, saya tanya ke ibu saya yg berdiri disamping saya yg juga sedang antri di kasir. Jawaban ibu " Lah, gak apa2, setahun sekali ini!". Ups! Ternyata troly ibu juga penuh, tapi saya tahu itu untuk anak cucu (termasuk saya) yg setiap lebaran selalu numpang makan dirumah ibu, krn malas memasak, gak mau repot, dan gak mau rumah berantakan! Ok! Kesimpulannya: Tdk ada yang salah dari pelajaran yang saya peroleh sejak kecil tentang makna Ramadhan, dan tidak ada yg perlu dipertanyakan, krn Ramadhan mengajarkan kita juga untuk menjaga hati tetap bersih. Khusus untuk saya di ramadhan kali ini: bersih dari prasangka.

Selamat merayakan kemenangan. Mohon maaf lahir dan bathin.