Ada sederet nama dalam catatan kehidupan saya yang saya kategorikan sebagai orang orang yang membuat saya iri, karena mereka orang orang terpilih. Mereka adalah orang orang yang bukan hanya beruntung karena mendapat hidayah, tapi sudah melakukan perbuatan nyata untuk kemanusiaan. Perbuatan nyata yang diperintahkan Allah dan tercantum dalam Al Qur'an, menjadi rahmatan lil alamin.
Sebut saja Dian dan Eko Pratomo, yang mendirikan yayasan Syamsu Duha, yayasan yang dibuat untuk membantu orang dengan lupus dan orang dengan low vision. Insipirasi membangun yayasan ini muncul tatkala Dian di akhir th 90 an terkena lupus dengan penglihatan hari ini yang tinggal 5%. Padahal sebelumnya Dian adalah wanita karir aktif, corporate PR Manager disebuah bank terkenal. Penyakitnya membuat dia harus meninggalkan karir yang sedang dia jalani dengan semangat. Hebatnya, dia dan suami bergandeng tangan menghadapi ujian ini, bahkan melihatnya sebagai cara Allah untuk memberdayakan mereka dengan kemampuan yang mereka miliki agar mereka mampu berbuat lebih banyak lagi bagi umat. Berapa banyak sudah orang dengan lupus dan low vision yang terbantu karena adanya yayasan ini. Sakit istri malah membuat Eko suaminya mampu menulis dan menerbitkan 6 buku. Salah satunya yang sajib dibaca adalah "Miracle of Love". Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik siapapun yang membacanya.
Ada lagi ibu Sarejat. Ibu keturunan arab yang menguasai 18 titik kumuh di Jakarta. Puluhan tahun hidupnya dihabiskan hanya untuk membantu mereka yang tenggelam dibalik gemerlapnya ibu kota. Kalau bukan karena didampingi ibu Sarejat, belum tentu saya bisa mengunjungi kawasan2 itu. Kawasan yang biasanya hanya saya lihat dan dengar di media, seolah olah letaknya jauhhh dari negara kita. Tanpa ibu Sarejat belum tentu saya pernah menginjak kehidupan mereka yang sehari harinya hidup diatas sampah. Belum tentu saya punya kesempatan untuk bisa berdialog dengan mereka yang sering hanya bisa makan 1 mie instant untuk se keluarga. Kenapa? Pertama belum tentu kita sanggup dan tahan memasuki kawasan yang kita kategorikan 'stadium 4' karena parahnya kemiskinan disana. Kedua, belum tentu selamat maksud baik kita untuk membantu, karena seberapapun bantuan kita, tidak akan pernah bisa membuat mereka menjadi cukup santun untuk tidak berebut mengambil bantuan, atau bahkan memaki bila ternyata bantuannya kurang. Dan ibu Sarejat, ntah apa yang sudah dia lakukan. Pasti tak terhitung, karena kedatangannya mampu membuat penduduk miskin menaruh hormat terhadap tamu tamu siapapun yang dibawanya, sehingga bantuan sekecil apapun sampai langsung ke tangan yang berhak, tanpa insiden. Mungkin ada, tapi saya tidak pernah dengar. Terakhir saya dengar ibu Sarejat menangis, karena kaum duafa yang saya sempat kunjungi banyak yang meninggal, krn kelaparan. Mereka tidak butuh kail, mereka butuh makan.
Masih ada sederet nama2 lain di list saya, seperti Ustadz Houtman. Ustadz yang paling sering mengajak saya berkenalan dengan orang orang terpilih. Beliau sendiri bersama istrinya Ibu Sri, menurut saya adalah juga orang terpilih. Bayangkan, bersama istri disaat keduanya sedang menikmati karir puncaknya di bank, mereka putuskan meninggalkan karir, karena ingin mendedikasikan diri kepada Allah, dengan mengumpulkan bekal hari akhir. Caranya dari mulai mendirikan yayasan untuk yatim piatu, sampai dengan membantu lansia, duafa, mempertemukan mereka yang berkecukupan dengan mereka yang berkekurangan. Yang luar biasa adalah, mengadopsi 60 anak dirumahnya, diluar 2 anak kandungnya. Anak anak itu ada yang ditemukan di kala banjir, diletakkan oleh orang didepan rumahnya, dimana saja. Dan tidak semua anak angkatnya sehat, ada yang cacat secara fisik, dan mental. Kalau saya tanya" Bagaimana rasanya pulang kerumah dengan sebegitu banyak manusia?" ,Jawabannya enteng " Nikmat. Ada yang naik keatas punggung, ada yang memeluk, ada yang berteriak, ada yang berantem berebut perhatian". Hmm...nikmat? Lalu kenapa saya hanya punya anak dua ya?
Adalagi mas Siswanto. Dia mendedikasikan dirinya menangani anak2 jalanan, dari yang tadinya membimbing dari sebuah bedeng diatas rawa penuh genangan air berwarna hijau. Membimbing untuk memberi tambahan pengetahuan dan ketrampilan agar anak2 gelandangan bisa keluar dari liarnya kehidupan jalanan. Ketekunannya membantu membuahkan hasil. Saat ini Yayasan Himata, yayasan yang dikelolanya sudah dibiayai banyak donatur sehingga memiliki asrama sekaligus tempat kursus ketrampilan yang layak. Anak2nya bahkan beberapa sudah bisa hidup mandiri, tidak lagi bergelandang, tapi berbisnis kecil2an.
Ada Suster Lily. Satu diantara suster2 di RSCM yang mendedikasikan sebagian besar gajinya untuk fakir miskin yang harus dirawat di RSCM. Mungkin saja diantara mereka orang2 miskin yang dirawat disana sudah mendapat bantuan dari pemerintah untuk perawatannya, tapi bagaimana dengan uang transport, makan dan tinggal bagi keluarga yang menunggui yang kebanyakan untuk kehidupan sehari hari sudah sulit? Ada yang bahkan harus berkali kali balik, dirawat dan di operasi lagi, pdhal jatah bantuan pemerintah sudah tdk bisa diperoleh lagi. Malaikat malaikat penolong turun dalam hati suster Lily juga bbrp suster lainnya. Pernah main ke RSCM bangsal anak? Ditanggung melamun pulangnya. Kemana aja sekian lama tinggal di Jakarta baru tau untuk melihat dimana duafa berada ternyata dekat2 saja?
Orang terpilih lainnya: Bang Arif. Tepatnya Arief Mulyadi. Awal th 2000an dapat hidayah, sebelumnya hidupanya berantakan, hancur ! Semua yang dilarang agama sudah dia lakukan sampai disatu titik 5 dari 6 ganknya berbuat kerusakan, mati. Ada yg ditembak polisi, ada yang dibunuh dll. Bang Arief pasti disayang Allah, krn masih diberi kesempatan utk insyaf, taubat, dan berbuat kebaikan. Sejak taubatnya dia memperdalam AlQur'an, khususnya content/terjemahannya, krn menurutnya terlambat kalau dia belajar tajwid dan bahasa arab, walau itu yang paling efektif. Dalam waktu 6 bulan di hafal dan paham, shg tau ayat mana diterangkan oleh ayat mana. Ilmu itu yang dia syiarkan hingga hari ini. Bermula dari pengajian di keluarga Suci, dimana saya se Kel mengikuti, sampai akhirnya sekarang sudah syiar ke banyak pelosok Indonesia, dibiayai oleh seseorang, dengan tujuan: anak TK s/d SD belajar tajwid, SMP belajar terjemahan, SMA belajar bahasa arab, shg lengkapnya pehaman kita tentang guidance Allah. Dengan demikian insya Allah prilaku kita juga sesuai petunjukNya. 2 tahun terakhir kesibukannya bertambah yaitu memaksimalkan fungsi posyandu dan mesjid disetiap wilayah untuk mengentaskan kemiskinan sekaligus meningkatkan pendidikan di wilayah tsb. Konsep yang bagus sekali, yang bila diterapkan oleh semua orang, mudah2an mengurangi kemiskinan, kebodohan, dan kejahatan di seluruh wilayah Indonesia. Pasti bukan pekerjaan gampang. Bukankah spt tertulis di Al Qur'an' ..Sebagian besar manusia tidak beriman'.
Kemarin saya mendapat kesempatan berkenalan sekaligus berkunjung ke Yayasan Darul Quran, wialayah yang dibangun Ustadz Yusuf Mansyur, ustadz yang memulai profesinya sebagai ustadz setelah melewati ujian kehidupan dimana dia terlibat hutang yang cukup besar, hingga menyeretnya dua kali masuk penjara. Namun ujian itu pula yang membuat dia bertekad memperbaiki hidup dengan mengisinya untuk melestarikan ayat ayat Allah. Salah satu yang banyak dia amalkan untuk dipelajari dan dijalani oleh orang lain, adalah kedahsyatan bersedekah. Dari pengalamannya dan pengalaman banyak orang yang sudah mengikuti amalan sedekah yang diajarkan dan mampu membuktikan betapa dahsyatnya janji Allah kepada mereka yang ikhlas bersedekah. Janji itu memang tertulis di al Qur'an yang tidak keraguan sedikitpun terhadap isinya walau manusia seringkali membutuhkan bukti bukti nyata untuk memahami, dan bukti bukti nyata lagi untuk mulai bergerak, dan bukti bukti nyata untuk terus melaksanakan. Begitulah manusia, yang di Al Quran dikatakan sebagian besar bersifat kikir.
Nikmatnya menikmati Ashar, maghrib hingga Isya di pesantren Darul Qur'an sambil menikmati hidangan sate ayam bakar, ikan goreng rica, sambil berbincang dengan ustadz yang usianya belum lagi 40 sudah mampu membuat pesantren, asrama, dan sekolah baik bagi kaum duafa yang berpresetasi, maupun sekolah dengan skala international yang tidak kalah dengan sekolah sekolah international yang bertebaran diJakarta. Semua terlaksana hanya dalam kurun waktu 5 tahun dari hijrahnya menjadi orang yang lebih baik sesuai perintahNya.
Berkenalan, berkawan dan dekat dengan mereka semua membuat hati terisi, hidup termotivasi, dan sejuk. Mungkin gak ya saya bisa seperti mereka? Atau saya kebagian peran yang berbeda dari Nya? Mudah2an apapun itu, tetap peran yang memberi banyak kebaikan bagi umat, dan saya mampu memerankannya dengan maksimal. Amin.
( Song; One Voice, by Barry Manillow)
Sebut saja Dian dan Eko Pratomo, yang mendirikan yayasan Syamsu Duha, yayasan yang dibuat untuk membantu orang dengan lupus dan orang dengan low vision. Insipirasi membangun yayasan ini muncul tatkala Dian di akhir th 90 an terkena lupus dengan penglihatan hari ini yang tinggal 5%. Padahal sebelumnya Dian adalah wanita karir aktif, corporate PR Manager disebuah bank terkenal. Penyakitnya membuat dia harus meninggalkan karir yang sedang dia jalani dengan semangat. Hebatnya, dia dan suami bergandeng tangan menghadapi ujian ini, bahkan melihatnya sebagai cara Allah untuk memberdayakan mereka dengan kemampuan yang mereka miliki agar mereka mampu berbuat lebih banyak lagi bagi umat. Berapa banyak sudah orang dengan lupus dan low vision yang terbantu karena adanya yayasan ini. Sakit istri malah membuat Eko suaminya mampu menulis dan menerbitkan 6 buku. Salah satunya yang sajib dibaca adalah "Miracle of Love". Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik siapapun yang membacanya.
Ada lagi ibu Sarejat. Ibu keturunan arab yang menguasai 18 titik kumuh di Jakarta. Puluhan tahun hidupnya dihabiskan hanya untuk membantu mereka yang tenggelam dibalik gemerlapnya ibu kota. Kalau bukan karena didampingi ibu Sarejat, belum tentu saya bisa mengunjungi kawasan2 itu. Kawasan yang biasanya hanya saya lihat dan dengar di media, seolah olah letaknya jauhhh dari negara kita. Tanpa ibu Sarejat belum tentu saya pernah menginjak kehidupan mereka yang sehari harinya hidup diatas sampah. Belum tentu saya punya kesempatan untuk bisa berdialog dengan mereka yang sering hanya bisa makan 1 mie instant untuk se keluarga. Kenapa? Pertama belum tentu kita sanggup dan tahan memasuki kawasan yang kita kategorikan 'stadium 4' karena parahnya kemiskinan disana. Kedua, belum tentu selamat maksud baik kita untuk membantu, karena seberapapun bantuan kita, tidak akan pernah bisa membuat mereka menjadi cukup santun untuk tidak berebut mengambil bantuan, atau bahkan memaki bila ternyata bantuannya kurang. Dan ibu Sarejat, ntah apa yang sudah dia lakukan. Pasti tak terhitung, karena kedatangannya mampu membuat penduduk miskin menaruh hormat terhadap tamu tamu siapapun yang dibawanya, sehingga bantuan sekecil apapun sampai langsung ke tangan yang berhak, tanpa insiden. Mungkin ada, tapi saya tidak pernah dengar. Terakhir saya dengar ibu Sarejat menangis, karena kaum duafa yang saya sempat kunjungi banyak yang meninggal, krn kelaparan. Mereka tidak butuh kail, mereka butuh makan.
Masih ada sederet nama2 lain di list saya, seperti Ustadz Houtman. Ustadz yang paling sering mengajak saya berkenalan dengan orang orang terpilih. Beliau sendiri bersama istrinya Ibu Sri, menurut saya adalah juga orang terpilih. Bayangkan, bersama istri disaat keduanya sedang menikmati karir puncaknya di bank, mereka putuskan meninggalkan karir, karena ingin mendedikasikan diri kepada Allah, dengan mengumpulkan bekal hari akhir. Caranya dari mulai mendirikan yayasan untuk yatim piatu, sampai dengan membantu lansia, duafa, mempertemukan mereka yang berkecukupan dengan mereka yang berkekurangan. Yang luar biasa adalah, mengadopsi 60 anak dirumahnya, diluar 2 anak kandungnya. Anak anak itu ada yang ditemukan di kala banjir, diletakkan oleh orang didepan rumahnya, dimana saja. Dan tidak semua anak angkatnya sehat, ada yang cacat secara fisik, dan mental. Kalau saya tanya" Bagaimana rasanya pulang kerumah dengan sebegitu banyak manusia?" ,Jawabannya enteng " Nikmat. Ada yang naik keatas punggung, ada yang memeluk, ada yang berteriak, ada yang berantem berebut perhatian". Hmm...nikmat? Lalu kenapa saya hanya punya anak dua ya?
Adalagi mas Siswanto. Dia mendedikasikan dirinya menangani anak2 jalanan, dari yang tadinya membimbing dari sebuah bedeng diatas rawa penuh genangan air berwarna hijau. Membimbing untuk memberi tambahan pengetahuan dan ketrampilan agar anak2 gelandangan bisa keluar dari liarnya kehidupan jalanan. Ketekunannya membantu membuahkan hasil. Saat ini Yayasan Himata, yayasan yang dikelolanya sudah dibiayai banyak donatur sehingga memiliki asrama sekaligus tempat kursus ketrampilan yang layak. Anak2nya bahkan beberapa sudah bisa hidup mandiri, tidak lagi bergelandang, tapi berbisnis kecil2an.
Ada Suster Lily. Satu diantara suster2 di RSCM yang mendedikasikan sebagian besar gajinya untuk fakir miskin yang harus dirawat di RSCM. Mungkin saja diantara mereka orang2 miskin yang dirawat disana sudah mendapat bantuan dari pemerintah untuk perawatannya, tapi bagaimana dengan uang transport, makan dan tinggal bagi keluarga yang menunggui yang kebanyakan untuk kehidupan sehari hari sudah sulit? Ada yang bahkan harus berkali kali balik, dirawat dan di operasi lagi, pdhal jatah bantuan pemerintah sudah tdk bisa diperoleh lagi. Malaikat malaikat penolong turun dalam hati suster Lily juga bbrp suster lainnya. Pernah main ke RSCM bangsal anak? Ditanggung melamun pulangnya. Kemana aja sekian lama tinggal di Jakarta baru tau untuk melihat dimana duafa berada ternyata dekat2 saja?
Orang terpilih lainnya: Bang Arif. Tepatnya Arief Mulyadi. Awal th 2000an dapat hidayah, sebelumnya hidupanya berantakan, hancur ! Semua yang dilarang agama sudah dia lakukan sampai disatu titik 5 dari 6 ganknya berbuat kerusakan, mati. Ada yg ditembak polisi, ada yang dibunuh dll. Bang Arief pasti disayang Allah, krn masih diberi kesempatan utk insyaf, taubat, dan berbuat kebaikan. Sejak taubatnya dia memperdalam AlQur'an, khususnya content/terjemahannya, krn menurutnya terlambat kalau dia belajar tajwid dan bahasa arab, walau itu yang paling efektif. Dalam waktu 6 bulan di hafal dan paham, shg tau ayat mana diterangkan oleh ayat mana. Ilmu itu yang dia syiarkan hingga hari ini. Bermula dari pengajian di keluarga Suci, dimana saya se Kel mengikuti, sampai akhirnya sekarang sudah syiar ke banyak pelosok Indonesia, dibiayai oleh seseorang, dengan tujuan: anak TK s/d SD belajar tajwid, SMP belajar terjemahan, SMA belajar bahasa arab, shg lengkapnya pehaman kita tentang guidance Allah. Dengan demikian insya Allah prilaku kita juga sesuai petunjukNya. 2 tahun terakhir kesibukannya bertambah yaitu memaksimalkan fungsi posyandu dan mesjid disetiap wilayah untuk mengentaskan kemiskinan sekaligus meningkatkan pendidikan di wilayah tsb. Konsep yang bagus sekali, yang bila diterapkan oleh semua orang, mudah2an mengurangi kemiskinan, kebodohan, dan kejahatan di seluruh wilayah Indonesia. Pasti bukan pekerjaan gampang. Bukankah spt tertulis di Al Qur'an' ..Sebagian besar manusia tidak beriman'.
Kemarin saya mendapat kesempatan berkenalan sekaligus berkunjung ke Yayasan Darul Quran, wialayah yang dibangun Ustadz Yusuf Mansyur, ustadz yang memulai profesinya sebagai ustadz setelah melewati ujian kehidupan dimana dia terlibat hutang yang cukup besar, hingga menyeretnya dua kali masuk penjara. Namun ujian itu pula yang membuat dia bertekad memperbaiki hidup dengan mengisinya untuk melestarikan ayat ayat Allah. Salah satu yang banyak dia amalkan untuk dipelajari dan dijalani oleh orang lain, adalah kedahsyatan bersedekah. Dari pengalamannya dan pengalaman banyak orang yang sudah mengikuti amalan sedekah yang diajarkan dan mampu membuktikan betapa dahsyatnya janji Allah kepada mereka yang ikhlas bersedekah. Janji itu memang tertulis di al Qur'an yang tidak keraguan sedikitpun terhadap isinya walau manusia seringkali membutuhkan bukti bukti nyata untuk memahami, dan bukti bukti nyata lagi untuk mulai bergerak, dan bukti bukti nyata untuk terus melaksanakan. Begitulah manusia, yang di Al Quran dikatakan sebagian besar bersifat kikir.
Nikmatnya menikmati Ashar, maghrib hingga Isya di pesantren Darul Qur'an sambil menikmati hidangan sate ayam bakar, ikan goreng rica, sambil berbincang dengan ustadz yang usianya belum lagi 40 sudah mampu membuat pesantren, asrama, dan sekolah baik bagi kaum duafa yang berpresetasi, maupun sekolah dengan skala international yang tidak kalah dengan sekolah sekolah international yang bertebaran diJakarta. Semua terlaksana hanya dalam kurun waktu 5 tahun dari hijrahnya menjadi orang yang lebih baik sesuai perintahNya.
Berkenalan, berkawan dan dekat dengan mereka semua membuat hati terisi, hidup termotivasi, dan sejuk. Mungkin gak ya saya bisa seperti mereka? Atau saya kebagian peran yang berbeda dari Nya? Mudah2an apapun itu, tetap peran yang memberi banyak kebaikan bagi umat, dan saya mampu memerankannya dengan maksimal. Amin.
( Song; One Voice, by Barry Manillow)
